Era MEA, PPNI Miliki Peran Wujudkan Jatim Sehat

Monday, 25 January 2016 14:15:25

Memasuki era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jatim memiliki peran penting dalam mewujudkan Jawa Timur Sehat. Hal itu dapat dilakukan dengan meningkatkan etos kerja dalam memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat.

Demikian dikatakanGubernur Jatim, H Soekarwo saat menghadiri acara Pelantikan Pengurus Wilayah Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Prov. Jatim Periode 2015-2020 di Surabaya, Rabu (30/12).

Menurut Pakde Karwo, hal yang harus dilakukan PPNI sebagai wujud untuk menjadikan Jatim sehat di Era MEA, antara lain mau meningkatkan etos kerja dalam memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat. Selain itu, sebagai perawat harus mengerti apa yang seharusnya dikerjakan dan diberikan pada masyarakat yang membutuhkan. Karena masyarakat yang datang pada Puskesmas atau Ponkesdes itu pasti orang sakit, meskipun hanya sebesar 20% saja orang yang benar-benar sakit sedang yang 80% adalah jiwanya yang sakit atau kesepian.

Selain itu, perawat harus bekerja dengan ihklas dan siap serta sanggup kapanpun masyarakat membutuhkan. “Berilah sentuhan kasih sayang dalam melayani masyarakat serta berilah senyuman, karena dengan senyuman maka 50% penyakit akan sirna dan sembuhnyapun mudah,” kata Pakde Karwo melalui siaran pers Humas Setdaprov.

Jawa Timur, tahun 2015 telah memperoleh penghargaan tingkat nasional untuk bidang kesehatan, yakni dalam sistem pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Untuk itu, kalau perawat adalah pekerjaan profesi maka satu hal yang sangat penting dan harus bisa diberikan dan dilakukan oleh seorang perawat adalah bekerja dengan sepenuh hati dan ihklas. Sebab, menjadi perawat adalah pilihan dan pilihan itu adalah pengabdian. “Karena itu, lebarkan relasi dan sayapmu untuk membatu dan memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat guna meningkatkan derajat kesehatan dengan ilmu yang telah kita miliki,” ujarnya.

Di Jatim, jumlah keseluruhan perawat sekitar 51 ribu. Dari jumlah tersebut sekitar 10 perawat ada di Surabaya, sedang yang 41 ribu perawat lainnya tersebar di seluruh Kab/Kota  se Jatim. Untuk itu, penempatan perawat tidak bisa merata bahkan ada beberapa Kabupaten yang masih kekurangan perawat.

Sebagai gambaran mayor dan minor tentang posisi kesehatan di Jatim, luas Jatim 47.157 Km, terbagi menjadi 38 Kab/Kota yaitu 29 kab dan 9 Kota dengan 664 kecamatan serta 851 Desa dan 2551 kelurahan. Dengan jumlah desa serta kelurahan dan kecamatan tersebut, masyarakat yang sakit untuk menjangkau ke Puskesmas tentu saja jauh bahkan ada yang sangat jauh. Oleh karena itu, Pemprov. Jatim membuat kebijakan membangun Ponkesdes serta Polindes sebagai basis dalam memberikan pelayanan kesehatan masyarakat hingga ke pelosok sekalipun.

Hingga saat ini, lanjutnya, jumlah Ponkesdes di Jatim sebanyak 3.313 dan jumlah Polindesnya sebanyak 5.700. Di setiap Ponkesdes diberi petugas kesehatan yakni 2 orang perawat kadang ada yang 3 orang perawat. Perawat-perawat  itu diberi insentif atau honor dari APBD Prov Jatim sebesar Rp 800 ribu/bulan/orang.

“Insya Allah tahun 2016 nanti, gaji perawat di setiap Ponkesdes akan dinaikkan 3 kali lipat, yakni rencananya setiap perawat-perawat itu akan menerima gaji sekitar Rp 2,4 juta/bulan/orang. Semoga dengan dinaikkannya honor atau gaji ini, tenaga kesehatan khususnya perawat yang ada di ponkesdes akan bertambah giat, semangat serta ikhlas dalam mengabdikan dirinya serta mendermakan ilmunya demi derajat kesehatan masyarakat Jawa Timur,” tegasnya.

Menurut pakde, kesehatan dan pendidikan adalah sarana yang fundamental untuk menaikkan IPM (Indek Pembangunan Manusia), sebelum menggunakan methode baru IPM jatim 73,98% tapi setelah menggunakan metode baru, saat ini IPM Jatim 68,14% dan angka merupakan derajat yang paling baik di Indonesia. LPP (Laju Pertumbuhan Penduduk) Jatim lebih rendah dibanding tingkat nasional yakni 0,61% (LPP Jatim), sedang LPP nasional 1,5 %.

Sedang untuk pasangan subur di Jatim hanya 1,96% sementara nasional 3%. Untuk Indeks Pembangunan Gender, Jatim pun tidak mau ketinggalan dengan tingkat nasional. Yakni IPG jatim 68,53% dan Sembilan tahun berturut-turut IPG selalu mendapatkan penghargaan dari pemerintah pusat. Ini menunjukkan, peran perawat sudah baik dan bagus, namun ke depan harus lebih ditingkatkan lagi demi mewujudkan Jawa Timur sehat di era MEA.

Pakde Karwo menambahkan, program unggulan kesehatan Prov Jatim tahun 2016, meliputi empat bidang yakni kusta, HIV AIDS, TBC dan Pasung. Mengapa  program unggulan kesehatan mengambil empat topik tersebut? Alasannya, karena jumlah penderita kusta di Jatim tambah banyak, begitu juga dengan HIV AIDS dan TBC serta sakit jiwa jumlahnya terus bertambah.

Pengurus Wilayah Daerah PPNI Jatim yang dilantik sebanyak 90 orang perawat terdiri dari Ketua DWP PPNI Jatim, wakil, sekretaris, bendahara, dan tujuh kepala bidang serta anggota. (put)

Sumber : http://kominfo.jatimprov.go.id

 

Artikel Terkait